Minggu, 22 April 2018

Mengambing Hitamkan Krisis Ekonomi

MENGKAMBING HITAMKAN KRISIS EKONOMI




Gara-gara skandal Century di tahun 2009 seolah menenggelamkan skandal yang 100 kali lipat lebih dahsyat dari riak konspirasi perbankan yang Rp6,7 trilliun. Generasi sekarang dengan sepele mengatakan "ah, BLBI tahun 1997 tak ada apa-apanya dibandikan dengan kasus Century". Ya jelas saja gemanya tak sedahsyat Century, karena saat itu media atau kritikus mana yang berani memberitakan dan menggugat kebijakan ekonomi yang diambil Presiden Soeharto? Mau di-subversifkan atau mau dipetruskan? Berbeda dengan era sekarang (yang sebenarnya kebablasan juga!).

Jauh sebelum kasus Century, di tahun 1997, justru negeri ini dihajar mega skandal perbankan senilai lebih dari Rp600 trilliun. Bahkan ongkos penanganannya di kemudian hari membuat Indonesia menanggung beban utang lebih dari Rp1000 trilliun, gara-gara paket kebijakan IMF yang sengawur-ngawurnya.

Dengan mudah para bankir nakal itu mengkambing hitamkan krisis ekonomi yang lebih dulu menghantam Korea Selatan dan Thailand sebelum akhirnya mengobrak-abrik pertahanan moneter Indonesia. Dollar menjadi langka, utang-utang dalam mata uang asing jatuh tempo untuk dibayar, utang-utang dalam negei pun macet tak terkira, inflasi menggila membuat rakyat menjerit sejadi-jadinya. kepanikanpun melanda dengan banyaknya nasaba yang ramai-ramai menarik dananya dari kas bank. Rush pun tak terhindarkan. Tak ada uang tunai untuk membayar nasabah. Perbankan Indonesia berdiri hanya dengan jempol kaki yang sudah bernanah di pinggir jurang kebangkrutan

Di sinilah muncul "malaikat penolong" yang benama Bantuan Likuiditas Bank Indoneia (BLBI) yang atas perintah Soeharto dikucurkan kepada bank-bank yang sekarat itu. Gelontorannya tak main-main hingga Rp600 trilliun, jauh lebih besar dari nilai APBN ketika itu yang hanya sekitar Rp200-an trillium. Bayangkan, rezim orde baru menghabiskan uang rakyat untuk menolong segelintir kapitalis perbankan, sementara yang hanya Rp200-an trilliun, negara harus menghidupi rakyatnya yang jumlahnya 200 jutaan jiwa!

Setelah Soeharto jatuh, sejumlah audit dilakukan untuk menelusuri jejak-jejak penyelewengan yang sudah dilakukan perbankan nasional sebelum krisis melanda. Kecurigaan sudah muncul diawal sejak awal bahwa krisis ekonomi itu hanya trigger (pemicu) dai kerusakan yang sebenarnya sudah jauh-jauh hari menggerogoti perbankan nasional yang dikelola secara ugal-ugalan oleh para pemiliknya yang nota bene kebanyakan merupakan konglomerat keluarga (Cendana) dan kroni-kroninya.

Bank-bank itu sakit bukan karena krisis ekonomi dunia, namun mereka sebenarnya adalah salah satu faktor utama yang menyebabkan dampak krisis dunia menjadi lebih meluluh lantakkan negeri ini. Pondasi perbankan nasional kala itu carut-marut, compang camping tak karu-karuan. Rezim pemerintahan orde baru selalu mencampuri urusan perbankan untuk kepentingan pribadi dan kroninya.

This Is The Newest Post

1 komentar so far


EmoticonEmoticon